Kontak:   +62 0877 5614 7941 / 0819 9783 1868
Nasehat Sang Kyai Untuk Para Alumni

Nasehat Sang Kyai Untuk Para Alumni

Anggi Jihadi Darma

Saturday, 11 December 2021

Menuju tiga dasawarsa berdirinya Pondok Pesantren Nurul Bayan (Jum’at, 14 Rabi’ul Akhir 1443 Hijriah yang bertepatan dengan 19 November 2021 Masehi) mendatang. Sebagai teladan, panutan, serta murabbi para santri, KH. Abdul Karim Abdul Ghofur beserta Ummi Hj. Halimatussa’diyah yang memiliki ketulusan, keikhlasan, kesabaran, dan keistiqomahan dalam mengajar dan mendidik para santri, serta cita-cita yang besar nan mulia dalam membawa almamater tercinta “Nurul Bayan” menjadi tempat penyemaian kader ummat yang memiliki kompetensi dalam bidang ilmu-ilmu keislaman, Bahasa Al-Qur’an, dan ilmu-ilmu sosial.

Dalam suatu kesempatan, atas nama keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Bayan dan selaku pimpinan, KH. Abdul Karim Abdul Ghofur memberikan nasehat, pesan dan motivasi bagi para alumni yang telah menyelesaikan masa studi di almamater tercinta Pondok Pesantren Nurul Bayan khususnya, dan para alumni pondok pesantren yang lain pada umumnya. Nasehat yang menegaskan perhatian beliau terhadap kelangsungan nilai-nilai pendidikan dan perjuangan pondok yang harus tetap terjaga dan diperjuangkan oleh para alumninya dimanapun berkiprah. Berikut nasehat, pesan, dan motivasi yang beliau sampaikan :
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah pada kesempatan yang sangat berharga ini, terlebih untuk para khirriij Ma’had Nurul Bayan khusunya dan  khirriij al-ma'ahid al-ukhra fii kulli makaan aynama nasya’tum, aynama sakantum waa ayyu maa kaana asyyughaalukum fii haadzihil awaakhir.

Satu hal yang harus kita pahami bahwa proses pendidikan pesantren yang pernah kita lalui itu adalah merupakan bagian dari proses pembentukan kepribadian, pembentukan karakter, pembentukan individu. Kalau kita cermati suasana yang kita pernah alami ketika kita masih tinggal di dalam pesantren bahwa seluruh aktivitas yang kita lakukan dan lalui itu selama dua puluh empat jam adalah bagian dari sebuah proses yang terus ber klinden, berjalan, berkesinambungan, dan tidak ada yang keluar dari nilai-nilai pendidikan.

Proses Pendidikan itu memang tidak bisa dirasakan langsung pada waktu itu, tetapi ada saatnya nanti kita rewind kembali, kita ulangi kembali proses pendidikan yang pernah kita rasakan, sehingga dia masuk ke dalam alam sadar kita dan dia muncul kembali pada saat proses pendewasaan itu kita miliki.

Oleh karena itu, maka apa yang pernah kita dapatkan, bekal-bekal yang kita pernah rasakan selama kita berada di dalam pondok pesantren akan menjadi modal penting yang sangat berharga dalam berkiprah di masyarakat maupun melanjutkan studi pendidikan di perguruan tinggi. Dan begitu kita keluar, maka hakekatnya yang kita dapatkan itu adalah menjadi sesuatu yang melatar belakangi, yang mendasari pembentukan kepribadian kita, pembentukan nilai-nilai jati diri kita, sehingga terimplementasi pada akhirnya nanti ketika kita sudah bersosialisasi di tengah masyarakat dengan aktivitas dan kegiatan apapun yang kita tekuni.

Sunnatullah bahwa kehidupan itu sangatlah beragam, kegiatan itu banyak sekali. Maka disinilah sebenarnya pembentukan dasar-dasar nilai kepribadian,  nilai-nilai keguruan yang pernah kita dapatkan di pondok pesantren bersumber dari makna mu’allimin, tarbiyatul mu’allimin atau kulliyatul mu’allimin hakekatnya adalah pembentukan atau penyemaian guru-guru. Guru tidak berarti dari aspek profesi saja, dimana dia harus berdiri di depan murid, tetapi lebih kepada memiliki dasar-dasar jiwa guru yang syarat dengan nilai-nilai qudwah, ada nilai-nilai uswah, ada nilai-nilai keteladanan, kemudian yang bisa terimplementasi kuat dalam kehidupannya untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, dan tentu untuk skala yang lebih luas.

Maka, alumni setelah keluar dari pondok atau telah menyelesaikan studinya di pondok pesantren. Yang pertama, dia harus senantiasa sadar dengan pesan-pesan pondok. Pesan pondok yang pertama adalah dia harus menumbuhkan dirinya. Tumbuhkan keilmuannya, tumbuhkan kepribadiannya, tumbuhkan jati dirinya, tumbuhkan mentalitasnya, tumbuhkan spritualitasnya. Kemudian proses penumbuhan wawasan dan lain sebagainya, ini semua  harus muncul.

Setelah tumbuh keilmuannya, tumbuh kepribadian, tumbuh kedewasaannya, tumbuh jati dirinya, tumbuh mentalitasnya, tumbuh spritualitasnya, dan tumbuh wawasannya. Kemudian selanjutnya adalah dia harus mulai untuk ikut membentuk orang lain dan dia juga harus mulai menanamkan jasa kepada orang lain. Sehingga dia tumbuh, berkembang dan berjasa.

Berjasa tidak hanya untuk lingkungan yang kecil, tetapi juga untuk lingkungan yang lebih besar sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Kalau kita sudah tumbuh, berkembang, dan bisa berjasa kepada siapapun, maka insyaallah manfaat hidup kita akan menjadi baik. Dan na’udzubillah setelah selesai atau tuntasnya kita menyelesaikan studi di pondok pesantren, ternyata kita tidak tumbuh, tidak berkembang, bahkan justru kita tidak pernah bisa menorehkan jasa dalam hidup ini.

Maka, siapapun kita, anak-anak alumni pondok pesantren Nurul Bayan khususnya, dari pondok pesantren manapun pada umumnya harus sadar dan ingat “Dzaakirinnaas bil ‘uluumi littahyah, laa takun uumin uulinnuhaa biba’iid “ senanatiasa mengingatkan orang dengan ilmu yang kita miliki, dan jangan pernah kemudian menjauh dari orang-orang yang berilmu, orang-orang yang beretika, dan orang-orang yang beradab.

Kalau kita sudah melakukan hal seperti itu, maka insyaallah hidup kita akan bermanfaat, hidup kita akan baik, hidup kita akan dapat dirasakan oleh orang lain, dan tentu Allah akan senang, ridho serta melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita, ini yang lebih penting. Semoga dimananpun kalian berada, kalian bisa tumbuh, berkembang, bermanfaat, dan jadilah orang yang senantiasa i’tiraf bil jamiil mengakui kebaikan yang sudah kita rasakan, dan jangan sampai menjadi orang yang nukraanul jamiil mengingkari sebuah kebaikan.

Demikian nasehat dan pesan dari ayahanda tercinta KH. Abdul Karim Abdul Ghofur. Semoga apa yang telah disampaikan dan dinasehatkan kepada kita, dapat kita terima dengan baik, dapat kita amalkan dengan  dalam kehidupan sehari-sehari, serta menjadi suatu modal berharga yang membawa keberkahan di masa depan. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.